Iriani sinta

CT Scan

ATRO X-ray

pesawat CT SCAN

Radiologi

pesawat CT SCAN

shynta

canggiih

Rontgen

CT Scan

Minggu, 13 Mei 2012

MRI

MRI (Magnetic resonance imaging)

Radiologi

merupakan cabang ilmu kesehatan yang berkaitan dengan zat-zat radioaktif,

energi pancaran, diagnosis, dan pengobatan penyakit dengan menggunakan

radiasi pengion (sinar X) maupun bukan pengion (ultrasound). Wilhelm Conrad Roentgen menemukan radiasi sinar X pada tanggal 8 November 1895

di Wuerzburg University. Awalnya segala sesuatu yang berkenaan dengan radiologi dianggap mengarah ke rontgen (pemeriksaan), tetapi kini radiologi

tak hanya sebatas itu. Radiologi juga menyentuh level pencitraan (imaging)

baik dengan zat radioaktif maupun dengan energi pancaran.



dibagi menjadi 2, radiologi diagnostik dan terapik. di thread ini cman

dibahas radiologi diagnostik yaitu MRI. CT Scan dan USG ga akan dibahas

karena uda umum.



Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat kedokteran di

bidang pemeriksaan diagnostik radiologi , yang menghasilkan rekaman

gambar potongan penampang tubuh / organ manusia.



Gambaran tersebut didapat dengan menggunakan medan magnet

berkekuatan antara 0,064 – 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dengan

resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.


YANG INI CT SCAN GAN


ini dya si MRI




Beberapa faktor kelebihannya adalah kemampuan dalam membuat potongan

koronal, sagital, aksial dan oblik tanpa banyak memanipulasi posisi tubuh

pasien sehingga sangat sesuai untuk diagnostik jaringan lunak.



Teknik penggambaran MRI relatif komplek karena gambaran yang dihasilkan

tergantung pada banyak parameter. Bila pemilihan parameter tersebut

tepat, kualitas gambar MRI dapat memberikan gambaran detail tubuh

manusia dengan perbedaan yang kontras, sehingga anatomi dan patologi

jaringan tubuh dapat dievaluasi secara teliti.


contoh gambarnya gan






Untuk menghasilkan gambaran MRI dengan kualitas yang optimal sebagai

alat diagnostik, maka harus memperhitungkan hal-hal yang berkaitan

dengan teknik penggambaran MRI, antara lain :

a. Persiapan pasien serta teknik pemeriksaan pasien yang baik

b. Kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaanya

c. Artefak pada gambar, dan cara mengatasinya

d. Tindakan penyelamatan terhadap keadaan darurat.


MRI bila ditinjau dari tipenya terdiri dari : a. MRI yang memiliki kerangka terbuka (open gantry) dengan ruang yang luas dan

b. MRI yang memiliki kerangka (gantry) biasa yang berlorong sempit.


Bila ditinjau dari kekuatan magnetnya terdiri dari ;
a. MRI Tesla tinggi ( High Field Tesla ) memiliki kekuatan di atas 1 – 1,5 T ;

b. MRI Tesla sedang (Medium Field Tesla) memiliki kekuatan 0,5 – T ;

c. MRI Tesla rendah (Low Field Tesla) memiliki kekuatan di bawah 0,5 T.

Prinsip Dasar MRI

Struktur atom hidrogen dalam tubuh manusia saat diluar medan magnet mempunyai arah yang acak dan tidak membentuk keseimbangan. Kemudian saat diletakkan dalam alat MRI (gantry), maka atom H akan sejajar dengan arah medan magnet . Demikian juga arah spinning dan precessing akan sejajar dengan arah medan magnet. Saat diberikan frekuensi radio , maka atom H akan mengabsorpsi energi dari frekuensi radio tersebut. Akibatnya dengan bertambahnya energi, atom H akan mengalami pembelokan, sedangkan besarnya pembelokan arah, dipengaruhi oleh besar dan lamanya energi radio frekuensi yang diberikan. Sewaktu radio frekuensi dihentikan, atom H akan sejajar kembali dengan arah medan magnet . Pada saat kembali inilah, atom H akan memancarkan energi yang dimilikinya. Kemudian energi yang berupa sinyal tersebut dideteksi dengan detektor yang khusus dan diperkuat. Selanjutnya komputer akan mengolah dan merekonstruksi citra berdasarkan sinyal yang diperoleh dari berbagai irisan.




Tata Laksana dan Langkah Pemeriksaan

1. Pada pemeriksaan MRI perlu diperhatikan bahwa alat-alat seperti tabung oksigen, alat resusistasi, kursi roda, dll yang bersifat fero-magnetik tidak boleh dibawa ke ruang MRI. Untuk keselamatan, pasien diharuskan mema-kai baju pemeriksaan dan menanggalkan benda-benda feromagnetik, seperti : jam tangan, kunci, perhiasan jepit rambut, gigi palsu dan lainnya.

2. Screening dan pemberian informasi kepada pasien dilakukan dengan cara mewawancarai pasien, untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang membahayakan pasien bila dilakukan pemeriksaan MRI, misalnya: pasien menggunakan alat pacu jantung, logam dalam tubuh pasien seperti IUD, sendi palsu, neurostimulator, dan klip anurisma serebral, dan lain-lain.

3. Transfer pasien menuju ruang MRI, khususnya pasien yang tidak dapat berjalan harus diperhatikan karena penggunaan mesin roda akan membahayakan dikarenakan medan magnet MRI selalu menyala. Cara antisipasi adalah menggunakan meja MRI yang mobile.

4. Kenyamanan pasien perlu diperhatikan karena dapat merancukan pemeriksaan.

5 Persiapan console yaitu memprogram identitas pasien se-perti nama, usia dan lain-lain.

6. Pemilihan coil yang tepat.

7. Memilih parameter yang tepat.

8. Untuk mendapatkan hasil gambar yang optimal, perlu penentuan center magnet (land marking patient) sehingga coil dan bagian tubuh yang diamati harus sedekat mungkin ke center magnet, misalnya pemeriksaan MRI kepala, pusat magnet pada hidung.

Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi adalah:

1. Kesalahan disebabkan pergerakan fisiologis yang tidak periodic, seperti menelan, pernafasan yang tidak stabil, berkedip, dan lain lain.

2. Adanya pengaruh gaya magnet dari luar.

3. Penempatan central magnet yang tidak tepat


Pencegahan yang dapat dilakukan adalah: a. waktu pemotretan dibuat secepat mungkin, b. menanggalkan benda-benda yang bersifat ferromagnetik.


Kelebihan MRI Dibandingkan dengan CT Scan

Ada beberapa kelebihan MRI dibandingkan dengan pemeriksaan CT Scan, yaitu
1. MRI lebih unggul untuk mendeteksi beberapa kelainan pada jaringan lunak seperti otak, sumsum tulang serta muskuloskeletal.

2. Mampu memberi gambaran detail anatomi dengan lebih jelas.

3. Mampu melakukan pemeriksaan fungsional seperti pemeriksaan difusi, perfusi dan spektroskopi yang tidak dapat dilakukan dengan CT Scan.

4. Mampu membuat gambaran potongan melintang, tegak, dan miring tanpa merubah posisi pasien.

5. MRI tidak menggunakan radiasi pengion.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memilih terapi radiologi mana yang sesuai adalah sebagai berikut. Keberhasilan utama pemeriksaan radiologi adalah menyediakan informasi yang berguna untuk penatalaksanaan penyakit. Radiologi menjadi sangat penting untuk pengobatan, tetapi harga menjadi kendala utama. Oleh karena itu, pemilihan teknik yang tepat harus dipikirkan.

Setiap teknik radiologi memiliki keunggulan dan kelemahan. Meskipun telah tampak gejala jelas dari suatu penyakit, tetapi selama diagnosis belum ditegakan maka radiologi belum boleh diberikan. Misalkan terjadi sakit kepala akibat kelainan di otak. Jika penyebab sakit kepala tersebut adalah abnormalitas intrakranial maka CT Scan lebih baik dari MRI. Jika Sakit kepala tersebut ternyata terjadi akibat perdarahan subaraknoid maka MRI lebih baik dari pada CT Scan.

Pemilihan juga dipengaruhi oleh ketersediannya. Misal, jika MRI tidak

tersedia atau dalam kondisi yang tidak baik atau bahkan tidak tersedia ahli

untuk menginterpretasikan hasil MRI, maka CT Scan dapat dilakukan sebagai

penggantinya. Selanjutnya, perlu disadari bahwa teknik termurah belum

tentu merupakan teknik terbaik. Misalnya, pada kebanyakan kasus fraktur

tulang tengkorak, CT Scan merupakan pilihan terbaik dibandingkan foto

rontgen karena meskipun harganya lebih mahal tetapi dengan hasil CT Scan

kita dapat membuat keputusan tindakan apa yang akan kita berikan agar

tidak terjadi defek pada otak. Terkadang, lebih dari satu teknik radiologi

diperlukan dalam mendiagnosis suatu penyakit.

Pada akhirnya, pemilihan teknik radiologi yang dilakukan kembali berada di

tangan pasien. Pasien dengan ferromagnetic cerebral aneurysm tidak dapat

mengikuti MR imaging. Pasien dengan riwayat alergi terhadap kontras

media iodin tidak dapat mengikuti kontras CT Scan kecuali telah

menjalankan terlebih dahulu pengobatan dengan antiinflamasi seperti

steroid. MRI juga tidak cukup efisien untuk pasien yang claustrofobik.(phobia terhadap tempat sempit dan ruang gerak terbatas)


Kesimpulan

1. Pemanfatan MRI untuk memeriksa bagian dalam tubuh sangat efektif karena memiliki kemampuan membuat citra potongan koronal, sagital, aksial tanpa banyak memanipulasi tubuh pasien dan diagnosa dapat ditegakkan dengan lebih detail dan akurat.


2. Pesawat MRI menggunakan efek medan magnet dalam membuat citra potongan tubuh, sehingga tidak menimbulkan efek radiasi pengion seperti penggunaan pesawat sinar X.


3. Gambaran yang dihasilkan oleh pesawat MRI tergantung pada ketepatan pemilihan parameternya. Dalam pengoperasiannya dapat terjadi kecelakaan yang bisa membahayakan pa-sien, petugas serta lingkungannya. Mengingat biaya pemeriksaan MRI bagi seorang pasien cukup mahal dan efek sampingnya, ( terutama efek latennya) yang belum diketahui maka perlu pertimbangan yang matang sebelum pasien dikirim untuk pemerikaan MRI.


4. Penelitian perlu dilakukan untuk menge-tahui ada / tidaknya efek samping bagi pasien, petugas maupun lingkungannya (terutama efek latennya ), mengingat kekuatan medan magnet-nya cukup tinggi. Perlu tindakan pecegahan kecelakaan dalam pemer

sumber: http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/mri-magnetic-resonance-imaging.html

pesawat dental





sumber:http://www.3drivers.com/upload/iblock/458/cone_beam_03_vray.jpg

penyakit jantung

Penyakit jantung bisa menyerang siapa saja. Usia muda juga rentan terhadap penyakit yang satu ini. Penyebabnya adalah pola hidup manusia sekarang memang sarat akan kerapuhan. Padahal jantung adalah organ terpenting bagi pastinya seseorang bisa hidup. Jantung yang sudah memiliki gejala sakit maka perlu berhati-hati lebih.
Penyakit jantung termasuk jantung koroner telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia maupun dunia. Di Indonesia, jantung koroner menempati posisi pertama sebagai penyakit yang paling banyak menimbulkan kematian. Demikian pula dengan stroke, sebagai penyakit yang memiliki prosentasi terbesar ketiga sebagai penyebab kematian.
Jantung merupakan organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga dan dengan basisnya di atas dan puncaknya di bawah.dengan berat jantung kira-kira 300 gram. Supaya jantung berfungsi sebagai pemompa yang efisien, otot-otot jantung, rongga atas dan rongga bawah harus berkontraksi secara bergantian. Laju denyut jantung atau kerja pompa ini dikendalikan secara alami oleh suatu “pengatur irama” yang terdiri dari sekelompok yang secara khusus, disebut nodus sinotrialis, yang terletak didalam dinding serambi kanan. Sebuah impuls listrik yang ditransmisikan dari nodus sinotrialis ke kedua serambi membuat keduanya berkontraksi secara serentak. Arus listrik ini selanjutnya di teruskan ke dinding-dinding bilik, yang pada gilirannya membuat bilik-bilik berkontraksi secara serentak.
Serangan jantung adalah suatu kondisi ketika kerusakan dialami oleh bagian otot jantung (myocardium) akibat mendadak sangat berkurangnya pasokan darah ke situ. Berkurangnya pasokan darah ke jantung secara tiba-tiba dapat terjadi ketika salah satu nadi koroner ter blokade selama beberapa saat, entah akibat spasme – mengencangnya nadi koroner – atau akibar pergumpalan darah – thrombus. Bagian otot jantung yang biasanya di pasok oleh nadi yang terblokade berhenti berfungsi dengan baik segera setelah splasme reda dengan sendirinya, gejala-gejala hilang secara menyeluruh dan otot jantung berfungsi secara betul-betul normal lagi. Ini sering disebut crescendo angina atau coronary insufficiency. Sebaliknya, apabila pasokan darah ke jantung terhenti sama sekali, sel-sel yang bersangkutan mengalami perubahan yang permanen hanya dalam beberapa jam saja dan bagian otot jantung termaksud mengalami penurunan mutu atau rusak secara permanen. Otot yang mati ini disebut infark.
Jantung adalah sebuah otot yang memompa darah ke seluruh tubuh. Dalam suatu serangan jantung (myocardial infarction), bagian dari otot jantung mati sewaktu tidak mendapatkan darah. Untuk tetap sehat, jantung membutuhkan oksigen dan zat-zat gizi lain yang dibawa oleh darah. Ini didapatkan melalui arteria (pembuluh darah) koroner, yang membungkus bagian luar jantung. Penyumbatan dalam satu arteri koroner atau lebih dapat menimbulkan serangan jantung secara tiba-tiba. Penyebabnya karena jantung meminta oksigen melebihi yang tersedia sehingga memicu serangan jantung. Apabila otot jantung tidak menerima oksigen untuk waktu yang cukup lama, jaringan di sekitarnya dapat rusak. Tidak seperti jaringan yang lain, otot jantung tidak mengalami regenerasi. Semakin lama serangannya, semakin banyak kerusakan pada jantung dan semakin besar kemungkinan meninggal.
Nyeri dada sering kali dianggap remeh oleh sebagian orang. Padahal, rasa nyeri pada bagian dada merupakan salah satu gejala penyakit jantung dan pembuluh darah. Oleh karena itu, sejumlah gejala yang terkait dengan gangguan jantung perlu dikenali sejak dini agar penderita bisa segera mendapat pengobatan secara cepat dan efektif. Sejumlah keluhan fisik yang patut diwaspadai sebagai gejala penyakit jantung adalah nyeri dada, berdebar-debar, cepat letih, sesak napas, ada riwayat sering pingsan, sesak bila tidur terlentang, beberapa organ tubuh membiru, serta perut dan bagian kaki membengkak. Gejala lain yang dialami ketika seseorang terserang penyakit jantung adalah rasa nyeri yang hebat pada bagian dada yang disertai muntah. ”Rasa tertekan atau seperti ditimpa beban, sakit, terjepit, diperas, dan terbakar di bagian dada dapat menjalar ke lengan kiri, leher, dan punggung.
Berikut adalah gejala terkena penyakit jantung, tidak selalu, tetapi kebanyakan. Gejala tersebut adalah sebagai berikut.

Asma


Penyakit Asma (Asthma) adalah suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang saluran pernafasan (bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding rongga bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang mengalami sesak nafas. Penyakit Asma paling banyak ditemukan di negara maju, terutama yang tingkat polusi udaranya tinggi baik dari asap kendaraan maupun debu padang pasir.
Penyebab Penyakit Asma
Sampai saat ini penyebab penyakit asma belum diketahui secara pasti meski telah banyak penelitian oleh para ahli. Teori atau hypotesis mengenai penyebab seseorang mengidap asma belum disepakati oleh para ahli didunia kesehatan.Namun demikian yang dapat disimpulkan adalah bahwa pada penderita asma saluran pernapasannya memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan (bronchial hyperreactivity = hipereaktivitas saluran napas) seperti polusi udara (asap, debu, zat kimia), serbuk sari, udara dingin, makanan, hewan berbulu, tekanan jiwa, bau/aroma menyengat (misalnya;parfum) dan olahraga.
Selain itu terjadinya serangan asma sebagai akibat dampak penderita mengalami infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) baik flu ataupun sinisitis. Serangan penyakit asma juga bisa dialami oleh beberapa wanita dimasa siklus menstruasi, hal ini sangat jarang sekali. Angka peningkatan penderita asma dikaitkan dengan adanya faktor resiko yang mendukung seseorang menderita penyakit asma, misalnya faktor keturunan. Jika seorang ibu atau ayah menderita penyakit asma, maka kemungkinan besar adanya penderita asma dalam anggota keluarga tersebut.
Tanda dan Gejala Penyakit Asma
Adapun tanda dan gejala penyakit asma diantaranya :
Pernafasan berbunyi (wheezing/mengi/bengek) terutama saat mengeluarkan nafas (exhalation). Namun tidak semua penderita asma memiliki pernafasan yang berbunyi, dan tidak semua orang yang nafasnya terdegarwheezing adalah penderita asma.
Adanya sesak nafas sebagai akibat penyempitan saluran bronki (bronchiale).
Batuk berkepanjangan di waktu malam hari atau cuaca dingin.
Adanya keluhan penderita yang merasakan dada sempit.
Serangan asma yang hebat menyebabkan penderita tidak dapat berbicara karena kesulitannya dalam mengatur pernafasan.
Pada usia anak-anak, gejala awal dapat berupa rasa gatal dirongga dada atau leher. Selama serangan asma, rasa kecemasan yang berlebihan dari penderita dapat memperburuk keadaanya. Sebagai reaksi terhadap kecemasan, penderita juga akan mengeluarkan banyak keringat.
Cara Menghindari Serangan Asma
Langkah tepat yang dapat dilakukan untuk menghindari serangan asma adalah menjauhi faktor-faktor penyebab yang memicu timbulnya serangan asma itu sendiri. Setiap penderita umumnya memiliki ciri khas tersendiri terhadap hal-hal yang menjadi pemicu serangan asmanya.
Setelah terjadinya serangan asma, apabila penderita sudah merasa dapat bernafas lega akan tetapi disarankan untuk meneruskan pengobatannya sesuai obat dan dosis yang diberikan oleh dokter.
Penanganan dan Pengobatan Penyakit Asma
Penyakit Asma (Asthma) sampai saat ini belum dapat diobati secara tuntas, ini artinya serangan asma dapat terjadi dikemudian hari. Penanganan dan pemberian obat-obatan kepada penderita asma adalah sebagai tindakan mengatasi serangan yang timbul yang mana disesuaikan dengan tingkat keparahan dari tanda dan gejala itu sendiri. Prinsip dasar penanganan serangan asma adalah dengan pemberian obat-obatan baik suntikan (Hydrocortisone), syrup ventolin (Salbutamol) atau nebulizer (gas salbutamol) untuk membantu melonggarkan saluran pernafasan.

Kanker tulang

 Kanker Tulang

|Ada yang beranggapan kanker tulang merupakan penyakit yang diturunkan. Ada pula yang menganggap kanker tulang ini sebagai penyakit kutukan, mungkin karena kasusnya relatif jarang terjadi. Tetapi bagaimanapun, sangat lebih baik jika kita sedikit banyak mengetahui perihal kanker tulang ini.




Secara garis besar kanker tulang dipecah menjadi dua jenis,
  1. Kanker tulang metastatik atau lebih sering disebut juga sebagai kanker tulang sekunder. Kanker tulang jenis ini disebabkan oleh kanker yang sudah ada di organ tubuh yang lain sebelum akhirnya menyebar ke tulang. Jadi kankernya bukan dari tulang. Contohnya adalah kanker paru-paru yang menyebar ke tulang dimana sel-sel kankernya menyerupai sel-sel paru-paru namun berada pada tulang yang diserang.
  2. Kanker tulang primer. Kanker yang satu ini memang berasal dari tulang itu sendiri. Yang termasuk dalam kategori kanker tulang ini adalah: Mieloma Multipel, Osteosarkoma, Fobrosarkoma, dan Histiositoma Fobrosa Maligna, Kondrosarkoma, Tumor Ewing, dan  Limfoma Tulang Maligna.
  3. Mieloma Multipel adalah kanker tulang yang paling sering ditemukan. Kanker ini berasal dari sel sumsum tulang yang menghasilkan sel darah. Biasanya kanker tulang jenis ini dialami oleh orang dewasa. Kanker ini dapat mengenai 1 atau lebih tulang sehingga nyeri bisa muncul di lebih dari 1 tempat.
  4. Osteosarkoma adalah tumor tulang ganas yang berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa remaja. Kanker tulang jenis ini banyak menyerang anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdeteksi pada anak umur 15 tahun. Dan angka kejadian pada anak laki-laki maupun anak perempuan adalah sama namun yang banyak diserang adalah remaja laki-laki. Penyebab kanker tulang jenis ini memang tidak diketahui secara pasti. Namun dari beberapa bukti yang ada tampaknya kemungkinan bahwa penyakit ini diturunkan besar sekali. Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang lengan atas (ujung atas) dan tulang kering (ujung atas). Ujung tulang tersebut merupakan daerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan yang terbesar. Meski demikian, osteosarkoma juga bisa tumbuh di tulang lainnya.
  5. Fibrosarkoma dan Histiositoma Fobrosa Maligna. Kanker ini berasal dari jaringan lunak (jaringan ikat selain tulang, seperti ligamen, tendon, lemak dan otot) dan jarang berawal dari tulang. Kanker ini biasanya ditemukan pada orang berusia lanjut atau pertengahan. Tulang yang paling sering terkena adalah tulang pada tungkai, lengan, dan rahang. Fibrosarkoma dan Histositoma Fibrosa Maligna mirip dengan osteosarkoma dalam bentuk, lokasi dan gejala-gejalanya. Pengobatannya pun sama.
  6. Kondrosarkoma. Kondrosarkoma adalah tumor yang terdiri dari sel-sel kartilago (tulang rawan) yang ganas. Kebanyakan kondrosarkoma tumbuh lambat atau merupakan tumor derajat rendah yang dapat disembuhkan dengan pembedahan. Tetapi, beberapa diantaranya adalah tumor derajat tinggi yang cenderung menyebar. Kondrosarkoma harus diangkat seluruhnya melalui pembedahan karena tidak bereaksi terhadap kemoterapi maupun terapi penyinaran. Amputasi tungkai atau lengan jarang dilakukan. Jika tumor diangkat seluruhnya, 75% penderita akan mampu bertahan hidup.
  7. Tumor Ewing. Tumor Ewing muncul pada masa pubertas dimana tulang tumbuh sangat cepat. Tumor ini jarang ditemukan pada anak yang berumur dibawah 10 tahun. Tumor bisa tumbuh di bagian tubuh  manapun. Namun yang paling sering di tulang panjang anggota gerak, panggul, atau dada. Tumor jga bisa tumbuh di tulang tengkorak atau tulang pipih lainnya. Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah nyeri dan kadang terjadi pembengkakan di bagian tulang yang terkena. Penderita jug amungkin mengalami demam. Tumor ini mudah menyebar ke paru-paru dan tulang lainnya. Pada saat terdiagnosis, penyebaran biasanya sudah terjadi hampir pada 30% penderita. Pengobatan yang dilakukan adalah kombinasi dari: kemoterapi (siklofosfamid, vinkristin, daktinomisin, doksorubisin, ifosfamid, etoposid), terapi penyinaran tumor dan terapi pembedahan untuk mengangkat tumor.
  8. Limfoma Tulang Maligna. Limfoma Tulang Maligna biasanya menyerang mereka yang berusia 40-50 tahun. Kanker ini berasal dari tulang manapun atau berasal dari tempat lain di tubuh, kemudian menyebar ke tulang. Biasanya tumor ini menimbulkan nyeri dan pembengkakan dan tulang yang rusak. Pengobatan terdiri dari kombinasi kemoterapi dan terapi penyinaran
Cara mendeteksi kanker tulang biasanya dilakukan dengan pemeriksaan:
  1. Rontgen tulang yang terkena
  2. CT Scan tulang yang terkena
  3. Pemeriksaan darah (termsuk kimia serum)
  4. CT Scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru
  5. Biopsi terbuka
  6. Scanning keseluruhan tulang untuk melihat penyebaran kanker-nya.
Gejala kanker tulang

 yang paling sering dialami adalah nyeri. Sejalan dengan pertumbuhan tumor, bisa juga terjadi pembengkakkan, dan pergerakan yang terbatas. Tumor di tungkai akan menyebabkan penderita berjalan timpang. Sedangkan tumor di lengan akan menyebabkan nyeri ketika lengan dipakai untuk mengangkat sesuatu.
Pembengkakkan pada tumor mungkin akan berasa hangat dan terlihat agak memerah. Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah tulang yang selanjutnya menjadi tumor. Patah tulang di tempat tumbuhnya tumor ini disebut fraktur patologis dan sering terjadi setelah tulang mengalami gerakan rutin.
Sebelum dilakukan pembedahan, dilakukan kemoterapi supaya tumor mengecil. Penyembuhan kanker tulang dengan jalan Kemoterapi ini lumayan manjur untuk membunuh sel tumor yang sudah mulai menyebar. Jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru, maka angka harapan hidupnya mencapai 60%. Sekitar 75% penderita bisa bertahan hidup sekitar 5 tahun setelah kanker tulangnya terdiagnosis.

sumber:http://artikelkesehatanq.blogspot.com/2009/06/kanker-tulang.html

Pelvis

Abdomen